Rabu, 06 Juli 2011
Ayo Kita Sambut Bulan Ramadhan
“Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.
Bertaubatlah kepada Allah dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat-saat yang paling utama ketika Allah Azza wa Jalla memandang hamba-hamba-Nya dengan penuh kasih; Dia menjawab mereka ketika mereka menyeru-Nya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.
Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.
Ketahuilah, Allah Ta’ala bersumpah dengan segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengadzab orang-orang yang shalat dan sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri di hadapan Rabbal-alamin.
Wahai manusia, barangsiapa di antaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka di sisi Allah nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi ampunan atas dosa-dosa yang lalu.
(Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua mampu berbuat demikian.” Rasulullah meneruskan khotbahnya, “Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah dirimu dari api neraka walau pun hanya dengan seteguk air.”)
Wahai manusia, siapa yang membaguskan akhlaknya di bulan ini, ia akan berhasil melewati Sirathal Mustaqim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaan-Nya di hari kiamat. Barangsiapa menahan kejelekannya di bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memuliakan anak yatim di bulan ini, Allah akan memuliakanya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa menyambungkan tali persaudaraan (silaturahmi) di bulan ini, Allah akan menghubungkan dia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barangsiapa memutuskan kekeluargaan di bulan ini, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat di bulan ini, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barangsiapa melakukan shalat fardu baginya ganjaran seperti melakukan 70 shalat fardu di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat kepadaku di bulan ini, Allah akan memberatkan timbangannya pada hari ketika timbangan meringan. Barangsiapa di bulan ini membaca satu ayat Al-Quran, ganjarannya sama seperti mengkhatam Al-Quran pada bulan-bulan yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak pernah menutupkannya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah agar ia tak lagi pernah menguasaimu.”
(Aku –Ali bin Abi Thalib yang meriwayatkan hadits ini– berdiri dan berkata, “Ya Rasulullah, apa amal yang paling utama di bulan ini?” Jawab Nabi, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama di bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah”.)
Rabu, 22 Juni 2011
Memahami Makna Rizki
Sebagian para ulama mendefinisikan, rizki adalah sesuatu yang Allah berikan kepada seluruh makhluk hidup berupa makanan. Asy-syaukani mengatakan, “Rizki adalah segala sesuatu yang dibutuhkan oleh makhluk hidup berupa makanan dengan semua jenisnya.” Definisi ini membatasi rizki hanya pada sesuatu yang manusia nikmat untuk memenuhi kebutuhan jasadnya saja.
Dalam Al-Quran, rizki dalam bentuk ini terdapat dalam ayat, “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati rizki (makanan) di sisinya…” (QS Ali ‘Imran: 37)
“Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami),” (QS Qaaf: 10-11)
Adapun dalam “Al-Qamush” dikatakan, “Rizki adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan oleh penerima rizki tersebut.” Di sini makna rizki lebih bersifat umum. Kata rizki menunjuk segala sesuatu yang bernilai manfaat.
Dari makna yang cakupannya luas ini rizki tidak hanya berbentuk harta benda atau materi. Rizki mencakup sesuatu yang memenuhi kebutuhan lahir seperti makanan dan minuman, karena manusia tidak akan dapat mempertahankan hidupnya tanpa makan dan minum. Rizki juga mencakup sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan rohani seperti ilmu dan pengetahuan, karena ilmu dan pengetahuan bermanfaat untuk hati dan pikiran. Dengan ilmu, hati dan pikiran mendapat nutrisi yang menyehatkan. Manusia menjadi memiliki kekuatan berpikir positif. Seperti badan menjadi kuat dengan asupan gizi dari makanan. Hati pun menjadi jernih, tidak kotor lagi oleh aneka penyakit yang memekatkan dengan ilmu yang benar.
Rizki Akhirat
Rizki juga tidak hanya didunia. Allah menyungkapkan balasan bagi orang-orang mukmin kelak di hari kiamat dengan bahasa “Rizki yang mulia”.
“Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.” (QS Al-ahzab:31)
Inilah rizki yang paling agung, paling baik, paling banyak, paling suci, paling nikmat dan paling mulia dari segala sisi. Rizki ukhrawi yang disediakan bagi para pencari rizki hakiki itu tidak ada bandingan, tidak dapat dijangkau dengan pengetahuan manusia. Allah menggambarkannya dalam hadis qudsi,
“Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shaleh balasan (kenikmatan) yang tidak ada satu mata pun yang pernah melihatnya, tidak ada satu telinga pun yang pernah mendengarnya dan tidak pernah terlintas sedikit pun dalam hati manusia.” (HR Bukhari Muslim)
Perhatikan firman Allah yang menggetarkan berikut ini,
“Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS As-Sajdah: 17)
Menyoal pemahaman
Manusia saat ini lebih terbiasa dengan kata rizki yang bermakna serba materi. Walaupun pada hakikatnya tidak demikian, makna materi lebih dominan difahami oleh mayoritas orang. Jika mereka mendengar kata rizki, bayangannya langsung tertuju pada harta dan kekayaan. Seringkali juga manusia tidak menganggap sesuatu selain harta benda dan uang sebagai rizki, walaupun sesuatu itu juga bermanfaat baginya. Beban berat mampu ia tanggung saat mencari uang, tapi halangan paling ringan saat mencari ilmu agama dan mengamalkannya tidak mampu ia lewati.
Atau, banyak manusia yang bisa berterima kasih saat diberikan harta atau bantuan lain yang bersifat dunia, namun tidak merasa harus berterima kasih ketika disampaikan padanya nasehat dan ilmu. Banyak manusia yang lebih menghormati orang berharta daripada orang yang berilmu. Sangat gembira saat mendapatkan uang, tapi tidak bersyukur atas hidayah. Hingga seolah-olah syukur itu hanya dilakukan saat mendapatkan kesenangan-kesenangan dan nikmat-nikmat yang bersifat duniawi saja seperti harta, anak, jabatan, kesembuhan dan kesehatan.
Memaknai rizki dengan harta dan kekayaan memang tidak salah. Semua kenikmatan yang manusia rasakan di dunia ini merupakan bagian dari rizki yang Allah karuniakan kepada mereka. Namun, jika pemaknaan ini menjadikan manusia memandang bahwa kemanfaatan hanya ada pada nilai materi tentu keliru. Pandangan ini bahkan cukup berbahaya.
Pandangan dari pemaknaan seperti itu bisa berimbas pada prilaku yang cenderung meterialis, selalu mengutamakan rizki materi daripada rizki-rizki lain yang mungkin jauh lebih bermanfaat seperti ilmu, nasehat dan hidayah tadi, yang dengannya manusia akan mampu mengenal dan mengamalkan keimanan dan keislamannya dengan baik.
Iman dan islam merupakan keutamaan dan rahmat Allah yang paling layak manusia syukuri. Perasaan gembira saat mendapat hidayah, berada di atas tauhid yang murni, akidah yang benar, ibadah yang sesuai dengan sunnah seharusnya melebihi kebahagiaan apapun. Karena itu semua lebih baik dari dunia dan segala isinya. Perhatikan firman Allah berikut ini,
“Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Rizki Khusus dan Umum
Dari sisi yang lain, para ulama juga menjelaskan bahwa rizki dibagi menjadi dua macam:
1. Rizki khusus, yaitu rizki halal yang Allah berikan hanya bagi orang-orang yang beriman. Rizki ini merupakan rizki yang bermanfaat, yang digunakan oleh orang-orang yang beriman sebagai penolongnya dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah. Ini sesuai dengan firman Allah,
“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat.” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (Al-‘Araf: 32)
Inilah sebetulnya tujuan Allah memberikan rizki kepada manusia. Agar dengannya manusia memiliki kekuatan untuk beribadah. Rasa syukur atas semua kenikmatan yang ada dalam ‘paket’ bernama rizki itu harus manusia wujudkan dalam amal-amal yang diridhoi oleh Pemberinya, yaitu Allah ‘azza wa jalla.
Dari pengertian rizki khusus ini, berarti hanya rizki yang ‘berlabel’ halal saja yang dapat dikatakan sebagai rizki yang hakiki, mengacu juga kepada makna rizki sebagai sesuatu yang selalu memiliki nilai manfaat tadi. Begitu juga rizki yang dikatakan sebagai rizki khusus ini hanya meliputi pemberian-pemberian Allah atas makhluk-Nya yang digunakan untuk investasi ukhrawi berupa ibadah dan ketaatan.
2. Rizki umum, yaitu rizki yang diberikan kepada semua makhluk hidup tanpa terkecuali, orang muslim atau kafir. Dengan rizki ini semua makhluk hidup bisa mempertahankan hidupnya, baik halal atau haram. Allah berfirman,
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (QS Hud: 6)
Jaminan rizki ini berlaku untuk semua makhluk, tanpa terkecuali. Semua makhluk di dunia ini akan Allah beri kecukupan rizkinya.
Wallahu a’lam bis-shawab
Selasa, 07 Juni 2011
Banyak Jalan Menuju Kebaikan
لاَ تُحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Janganlah sekali-kali kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, walaupun itu berupa berjumpa dengan saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim no. 2626)
Dari Abu Dzar radhiallahu anhu bahwa ada beberapa orang sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, para orang-orang kaya telah pergi mendahului kami dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, akan tetapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta yang mereka miliki.” Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ ما تَصَدَّقُوْنَ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وكل تَحْمِيْدَةٍ صدقة، وكل تَهْلِيْلَةٍ صدقة، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صدقة، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صدقة، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صدقة. قالُوا: يا رسولَ اللهِ أَيَأْتِي أَحَدُنا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْها أَجْرٌ؟ قالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَها فِي حَرامٍ أَكانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَها فِي الْحَلالِ كانَ لَهُ أَجْرٌ
“Bukankah Allah telah menjadikan untuk kalian sesuatu yang kalian bisa sedekahkan? Sesungguhnya setiap ucapan tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, nahi munkar adalah sedekah, dan pada kemaluan kalian juga terdapat sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah orang yang mendatangi syahwatnya di antara kami juga akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Bagaimana menurut kalian jika dia menyalurkan syahwatnya pada sesuatu yang haram, apakah dia akan mendapat dosa? Maka demikian pula jika dia menyalurkannya pada sesuatu yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.” (HR. Muslim no. 1006)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ سُلامَى مِنَ النّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ: تَعْدِلُ بَيْنِ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِي دابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْها أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْها مَتاعَهَ صدقة، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صدقة، وَبِكُلِّ خَطْوَةٍ تَمْشِيْها إِلَى الصَّلاةِ صدقة، وَتُمِيْطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ صدقة
“Setiap ruas tulang manusia mempunyai kewajiban untuk bersedekah setiap harinya. Berbuat adil di antara dua orang yang bertikai adalah sedekah, menolong seseorang untuk menaiki kendaraannya atau menaikkan barangnya di atas kendaraannya adalah sedekah, ucapan yang baik adalah sedekah, setiap langkah menuju shalat adalah sedekah, dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari no. 2707 dan Muslim no. 1009)
Dari Abu Dzar radhiallahu anhu dia berkata:
قُلْتُ: يا رسولَ اللهِ أَيُّ الأَعْمالِ أَفْضَلُ؟ قال: اَلإيْمانُ بِاللهِ وَالْجِهادُ فِي سَبِيْلِهِ. قلت: أي الرِّقابِ أفضل؟ قال: أَنْفَسُها عِنْدَ أَهْلِها وَأَكْثَرُها ثَمَناً. قلت: فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ؟ قال: تُعِيْنُ صانِعاً أَوْ تَصْنَعُ لِأَخْرَقٍ. قلت: يا رسولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعِفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ؟ قال: تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النّاسِ صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ
“Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.” Saya bertanya lagi, “Pembebasan budak mana yang paling utama?” Beliau menjawab, “Budak yang paling berharga dan paling mahal di mata pemiliknya.” Saya bertanya lagi, “Jika saya tidak mampu melakukannya?” Beliau menjawab, “Kamu membantu seorang pekerja atau membuatkan sesuatu untuk orang yang kurang pandai bekerja.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda jika saya tidak mampu mengerjakan sebagian amalan?” Beliau menjawab, “Kamu tidak berbuat jelek kepada orang lain merupakan sedekah kamu atas dirimu.” (HR. Muslim no. 136)
Penjelasan ringkas:
Di antara rahmat Allah kepada para hamba-Nya adalah Dia menetapkan untuk mereka banyak jalan-jalan kebaikan, mulai dari yang besar sampai yang kecil. Di antara hikmahnya tentu saja agar setiap hamba-Nya bisa berbuat kebaikan sesuai dengan keadaan dan kesempatan yang masing-masing mereka miliki dan agar kebaikan itu tidak hanya bisa dilakukan oleh segolongan kaum muslimin.
Tidak hanya sampai di situ rahmat Allah. Setelah Dia memudahkan untuk mereka berbagai jenis amalan kebaikan, Allah juga berjanji bahwa amalan baik sekecil apapun tidak akan ada yang luput dari perhitungan Allah dan Dia pasti akan memberikan pahala yang besar atasnya.
Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Dan apa saja yang engkau semua lakukan dari kebaikan, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 215)
Allah Ta’ala juga berfirman (artinya), “Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat timbangan debu, maka Ia akan mengetahuinya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)
Dan Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Barangsiapa yang melakukan amal shalih, maka perbuatannya itu akan menguntungkan dirinya sendiri.” (QS. Al-Jatsiyah: 15)
Dan masih banyak dalil-dalil lain yang menyebutkan satu persatu kebaikan-kebaikan kecil yang berpahala besar. Imam An-Nawawi rahimahullah telah membuat satu bab khusus dalam Riyadh Ash-Shalihin mengenai masalah ini pada Bab XIII. untuk itu silakan merujuk padanya.
Semoga akan menambah semangat kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang telah disediakan dan dimudahkan jalan-jalannya oleh Allah SWT.
Asmaulhusna
INDONESIA Tanah Air ku
Waktu Saat ini
Kalender Islam
Halaman Masjid Fathul Huda
Tamu Masjid ke
Anda berada di bumi Allah SWT
Live Traffic
Followers
Tags
- Adab (1)
- Akhlaq (5)
- Keutamaan (13)
- Khalifah (5)
- Kisah-kisah Hikmah (7)
- Kisah-kisah Rasulullah SAW (2)
- Kumpulan Doa (4)
- Renungan (12)
- Sains (7)
- Tokoh-tokoh Islam (2)